&
Advertise Here with Today.com
 

Archive for September, 2007

Sep 30 2007

ketika kebebasan menjadi kebablasan

Published by barie under Remaja Edit This

Sobat, setiap orangtua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Dan emang bagusnya, proses itu diawali oleh orangtua ketika sang anak menginjak usia remaja. Namun, pergaulan remaja modern yang kental dengan nuansa kebebasan bikin sebagian orangtua keberatan untuk memenuhi keinginan anaknya.

Ya, gimana nggak, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktekkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?
Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya barat adalah:

Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Terutama dalam upaya mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cara untuk meraih keinginannya. Nggak ada yang ngontrol saat benaknya ngasih jalan pintas untuk beresin masalahnya. Bisa bunuh diri, nge- drugs , atau nyekek botol minuman keras. Bisa juga jadi pelaku kriminal atau cewek �bispak’ pas lagi nggak punya doku.

Nggak ada juga yang ngasih pengarahan di benaknya saat kebutuhan nalurinya minta dipenuhi. Demi popularitas dan limpahan harta, harga diri dan kehormatan rela dipertaruhkan di kontes kecantikan. Ketika pornoaksi bin pornografi yang mudah ditemui menggedor hasratnya, apa aja bakal dijabanin asalkan terpuaskan. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja jadi prinsip remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendalian tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho! (Yako banget neh!)

Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye teselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan. Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena nonton vcd porno yang dijual bebas atau melototin tayangan erotis di televisi. Kurangnya kontrol dari orangtua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Nah sobat, coba aja bayangin. Gimana nggak keder ortu dengan akibat kebebasan remaja yang kebablasan seperti dipaparkan di atas. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Makanya kita pantas ber- husnudzan ama ortu. Kalo pengen dipercaya ortu, jalin komunikasi dan tunjukkin dong kalo kita udah dewasa dan siap belajar mandiri. Nggak perlu pake ngambek. Malu kan ama seragam SMA-nya? Hehehe

Advertise Here with Today.com

4 responses so far

Sep 27 2007

Kebebasan Yang Dipertanyakan

Published by barie under Remaja Edit This

Brak!!! Nita membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Nita ngejerit karena cicak itu jatuh tepat di kakinya.

Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih nih yee? Yaa gitu deh!

Nita sedih bukan lantaran kejatuhan cicak. Bukan juga lantaran nggak diizinin pak RT jadi peserta lomba panjat pinang. Pelajar kelas dua SMA ini lagi ngambek ama mamanya. Soalnya mama belon ngijinin doi untuk jalan-jalan ke mal sampe sore sepulang sekolah; atau minta jatah uang sakunya dijadiin bulanan; atau ikut clubbing di malam minggu bareng temen-temennya; atau pake baju tang top ngikutin tren; atau punya temen deket cowok dan masih banyak lagi tren remaja yang pengen Nita ikutin. Padahal Nita udah udah tujuh belas tahun. Dan temen-temen sebayanya pada bisa ngikut tren. Kenapa Nita nggak boleh? Makanya dari sepulang sekolah tadi, doi mogok keluar kamar. Kecuali pas lagi laper, pengen ke toilet, pas mamanya nawarin es krim, atau pas tukang somay kesenengannya lewat. Yeee mogok kok banyak kecualinya.

Kasus model Nita di atas kayaknya sering banget deh kita denger. Bisa jadi kita juga pernah ngalamin (ehm ehm jadi malu). Di usia yang menginjak remaja, kita sering ngerasa ortu belon ngasih kita kebebasan. Ortu masih nganggap kita anak kecil. Setiap jengkal keseharian kita masih diatur ama ortu. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Sementara di luar rumah, alam kebebasan yang mulai banyak digandrungi temen-temen remaja menggoda kita untuk mencicipinya. Enak kali ya

Kenapa pengen bebas?
Memasuki umur belasan tahun, biasanya remaja mulai merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter. Tapi nggak pake perubahan identitas jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor Moon lho. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, atau mulai tumbuhnya maaf- payudara pada cewek menunjukkan adanya perubahan fisik. Tapi untuk perubahan non fisik, nggak terlalu keliatan. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orangtua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.

Robert Havighurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, pertama emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua. Kedua aspek ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua. Ketiga, aspek intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dan terakhir, aspek sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

Itulah sedikit tinjauan psikologis akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya.

3 responses so far

Advertise Here