Sep 27 2007
Kebebasan Yang Dipertanyakan
Brak!!! Nita membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Nita ngejerit karena cicak itu jatuh tepat di kakinya.
Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih nih yee? Yaa gitu deh!
Nita sedih bukan lantaran kejatuhan cicak. Bukan juga lantaran nggak diizinin pak RT jadi peserta lomba panjat pinang. Pelajar kelas dua SMA ini lagi ngambek ama mamanya. Soalnya mama belon ngijinin doi untuk jalan-jalan ke mal sampe sore sepulang sekolah; atau minta jatah uang sakunya dijadiin bulanan; atau ikut clubbing di malam minggu bareng temen-temennya; atau pake baju tang top ngikutin tren; atau punya temen deket cowok dan masih banyak lagi tren remaja yang pengen Nita ikutin. Padahal Nita udah udah tujuh belas tahun. Dan temen-temen sebayanya pada bisa ngikut tren. Kenapa Nita nggak boleh? Makanya dari sepulang sekolah tadi, doi mogok keluar kamar. Kecuali pas lagi laper, pengen ke toilet, pas mamanya nawarin es krim, atau pas tukang somay kesenengannya lewat. Yeee mogok kok banyak kecualinya.
Kasus model Nita di atas kayaknya sering banget deh kita denger. Bisa jadi kita juga pernah ngalamin (ehm ehm jadi malu). Di usia yang menginjak remaja, kita sering ngerasa ortu belon ngasih kita kebebasan. Ortu masih nganggap kita anak kecil. Setiap jengkal keseharian kita masih diatur ama ortu. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Sementara di luar rumah, alam kebebasan yang mulai banyak digandrungi temen-temen remaja menggoda kita untuk mencicipinya. Enak kali ya
Kenapa pengen bebas?
Memasuki umur belasan tahun, biasanya remaja mulai merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter. Tapi nggak pake perubahan identitas jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor Moon lho. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, atau mulai tumbuhnya maaf- payudara pada cewek menunjukkan adanya perubahan fisik. Tapi untuk perubahan non fisik, nggak terlalu keliatan. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!
Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orangtua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.
Robert Havighurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, pertama emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua. Kedua aspek ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua. Ketiga, aspek intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dan terakhir, aspek sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
Itulah sedikit tinjauan psikologis akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya.
3 Responses to “Kebebasan Yang Dipertanyakan”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!







HWa hihi . . . jadi sedih bacanya. Ko bisa Sama ma yang Lala alami ya. Abz mo gmana lagi, kan sebgai remaja yang suda beranjk dewasa kita bbs menentukan pilihan kita sendiri termask dalam hal berpacaran. ( tentu aja pacaran yang sehat ).
Mungkin aj nita lagi jatu cinta ma cicaknya hhee . . . canda ding
benr jg sih pendapat kaka. Usia remaja emg selalu identik dg hal kebebasn.
ga sepenuhnya orang tua tu salah. MEreka pantas mewaspadai setiap kegiatan anaknya untuk memastikan bahwa mereka berada dalam jalan yang benr.
Mna ada sih orang tua yang rela melihat anaknya terjerumus ke dalam hal yang negatif.