&
Advertise Here with Today.com
 

Archive for the 'Remaja' Category

Mar 24 2009

Yakin daH meRasa DewasA ??

Published by barie under Remaja Edit This

APakah Kekerasan bagian dAri PendewasaAn ?!

 

Sobat semua, pernah ga sih merasakan emosi berlebih sampai mengeluarkan kata makian blab…bla…bla…. [Sensor] yang ga pantas didengar telinga.  Wajar aja sih emosi, ya anggap lah sebagai bentuk reflek kita terhadap sebuah pembelaan diri, tapi kalo dah dibarengi ma caci maki plus tantangan ke pihak lawan…eiitsss Tunggu dulu Bro,, Anak kecil itu namanya!!!

Sebagai sosok remaja di tengah masyarakat, harus ditanamkan pembudayaan kedewasaan menjalani hidup. Jangan mudah terhasut apalagi menjadi sok jagoan kambuhan. Setiap saat yang ada dipikirannya hanya berkelahi untuk mengalahkan lawan-lawannya dengan dalih mau menempoti posisi Terkuat. Emang sih fase peralihan kedewasaan pada remaja dini masih rentan akan tindak kekerasan. Adanya budidaya kaum muda harus kuat bukan berarti kita harus bersikap sok jagoan.

INGAT !! terKadang, untuk memahami dunia bawah laut, kita memang harus siap terjun dan mengarunginya, tapi jaman sekarang, ada teknologi canggih bernama…. Discovery Channel, hahaha! Maksud gw, untuk memahami dunia remaja, gak perlu bertingkah ato berlaku layaknya remaja yang lebay [hell, what’s your age again??], cukup membuka mata dan telinga untuk keep-up dengan dunia mereka kok, then you’ll know kalo remaja kapan pun, dimana pun dan jaman apapun, tugas perkembangan mereka itu… SAMA!

Intinya adalah remaja  harus berkiblat pada nilai-nilai budaya dalam runutan budaya leluhur. Leluhur di masa lalu telah mengajarkan kepada generasi ke generasi tentang budaya Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Malilu Siapakinga ( hehe dapat sedikit tambahan dari Wikipedia ). Simbolisasi dari ungkapan leluhur tersebut sarat makna untuk kemaslahatan generasi, terutama  terhadap penghentian aksi-aksi kekerasan. Bahwa remaja diharuskan untuk saling menolong (Mali Siparappe), saling menopang (Rebba Sipatokkong), dan saling mengingatkan (Malilu Sipakainga).

So The rest of only fads completely : Sok, egois, jagoan, dan sejibun kata-kata fenomenal tersebut harus dibuang aza lah jauh-jauh dalam benak kita. Jangan dijadikan pembenaran akan setiap tingkah-polah kita di tengah masyarakat. Remaja harus berani bersikap yang tegas dan lantang untuk mengatakan tidak pada kekerasan.   

Advertise Here with Today.com

No responses yet

Oct 05 2007

Dewasa di Usia Remaja

Published by barie under Remaja Edit This

Usia remaja mengharuskan kita untuk berpikir lebih dewasa. Dewasa dalam segala hal permasalahan hidup yang kita temui. kemandirian bagi remaja memang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan jiwanya. Tapi kita kudu mikir seribu kali kalo remaja dibiarkan menafsirkan sendiri kebebasan yang dikehendakinya. Jiwanya yang labil sangat mudah terwarnai oleh lingkungan sekitar. Gelora jiwa mudanya paling gampang terpincut ama budaya Barat yang steril dari norma-norma. Makanya kudu ada perhatian agar generasi muda sekarang nggak salah langkah dalam menapaki jalan panjang mencari jati diri.

Kedewasan sendiri bisa dilihat dari orang-orang sekitar kita. Misalnya seperti ini; kita kan nggak mungkin ngomongin segala hal tentang Perdebatan antara FPI dan Majalah Playboy Indonesia di depan anak-anak TK. Kita juga nggak mungkin ngomongin hal tentang Otomotif didepan komunitas Underground, ngomongin hal tentang Islam Liberal didepan komunitas Punk atau ngomongin tentang Matematika & Fisika didepan anak-anak IPS, Ngomongin tentang Sejarah Dunia didepan Anak-anak radio, ngobrolin tentang Game Multiplyer Online didepan Dosen. Dan ngomongin tentang The Clash atau Joy Division sama Orang tua kita.

Bertambah tua adalah sesuatu yang dapat dijadikan pengalaman, sekaligus bahan berfikir tentang kehidupan kita selanjutnya. Yup, sesuatu yang harus kita pikirin mulai dari sekarang.

Seseorang bisa saja dibilang bertambah dewasa ketika menghadapi suatu persoalan yang rumit, atau kejadian yang dia alami. Misalnya ketika dia menjadi anggota Tim Relawan Aceh atau Jogja. Mungkin aja dia seumuran gue, atau bahkan lebih muda. Di usianya, dia dapat mengorbankan segala yang ia punya (baik materi, ataupun tenaga) untuk membantu korban yang tertimpa musibah disana. Dan menurut gue, itulah hal yang sangat dewasa. Ketika kita rela tidak makan, rela tidak tidur, rela kehilangan tenaga, rela meniggalkan teman-teman kita, untuk seseorang yang kita sayangi. Dimana anak seumuran kita yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan tidur, bersantai, hura-hura, dsb.

Hmm, apa semua ini mau kita hindari?. Percaya deh, Everybody’s Growing Up at last. Sebuah proses pendewasaan yang mau gak mau harus kita jalanin kelak. Jadi pada kesimpulannya kedewasaan adalah bagaimana seseorang bisa masuk dalam suatu ruang publik dan tau porsi nya masing masing. Ketika dia tau kapan dia harus jadi orang yang pintar, atau jadi orang yang sangat lucu, orang yang sangat romantis, orang yang sangat berani, orang yang sangat tolol, atau pula menjadi orang yang sangat bijaksana…

4 responses so far

Sep 30 2007

ketika kebebasan menjadi kebablasan

Published by barie under Remaja Edit This

Sobat, setiap orangtua pasti ngerti kalo suatu saat nanti, mereka kudu rela melepaskan anaknya hidup mandiri. Dan emang bagusnya, proses itu diawali oleh orangtua ketika sang anak menginjak usia remaja. Namun, pergaulan remaja modern yang kental dengan nuansa kebebasan bikin sebagian orangtua keberatan untuk memenuhi keinginan anaknya.

Ya, gimana nggak, gencarnya arus budaya Barat yang membidik remaja membuat tuntutan kebebasan remaja bergeser menjadi liar tak terkendali. Pola hidup sekuler yang dipraktekkan masyarakat Barat jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan kita selaku muslim. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri. Bahaya kan?
Beberapa akibat kebebasan yang kebablasan hasil jiplakan remaja terhadap budaya barat adalah:

Pertama, free thinker alias bebas berpikir. Remaja ngerasa punya hak untuk berpikir tanpa dibatasi oleh norma-norma agama. Terutama dalam upaya mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi atau cara untuk meraih keinginannya. Nggak ada yang ngontrol saat benaknya ngasih jalan pintas untuk beresin masalahnya. Bisa bunuh diri, nge- drugs , atau nyekek botol minuman keras. Bisa juga jadi pelaku kriminal atau cewek �bispak’ pas lagi nggak punya doku.

Nggak ada juga yang ngasih pengarahan di benaknya saat kebutuhan nalurinya minta dipenuhi. Demi popularitas dan limpahan harta, harga diri dan kehormatan rela dipertaruhkan di kontes kecantikan. Ketika pornoaksi bin pornografi yang mudah ditemui menggedor hasratnya, apa aja bakal dijabanin asalkan terpuaskan. Urusan dosa atau penjara, itu mah belakangan. Ih, ngeri banget deh jadinya.

Kedua, permissif alias bebas berbuat. Mau ngapain aja di mana aja jadi prinsip remaja dalam berbuat. Pokoknya serba ada, eh serba boleh. Mulai dari cara berbusana, berdandan, berbicara, bergaul, atau berperilaku. Bangga jika daya tarik seksualnya disapu setiap mata lawan jenis yang jelalatan. Antimalu jadi pusat perhatian orang lantaran dandanannya yang urakan, norak, dan kekurangan bahan. Dan nggak punya rem buat ngendalian tutur katanya. Ceplas-ceplos bin asal bunyi. Dan semuanya dilakukan tanpa risih dengan mengantongi label kebebasan berekspresi. So what gitu lho! (Yako banget neh!)

Ketiga, free Sex alias pergaulan bebas. Saat ini, pergaulan bebas antar lawan jenis yang banyak digandrungi remaja sangat mudah terkontaminasi unsur cinta dan seks. Apalagi ditambah dengan kampanye teselubung antijomblo yang diopinikan media via sinetron remaja. Setiap remaja ngerasa kudu punya gacoan biar eksis dalam pergaulan. Nggak sebatas punya gacoan, pergaulan bebas pun sangat membuka peluang bagi remaja untuk aktif melakukan aktivitas seksual. Pemicunya, bisa karena nonton vcd porno yang dijual bebas atau melototin tayangan erotis di televisi. Kurangnya kontrol dari orangtua, sekolah, atau masyarakat bikin mereka enjoy berpetualang menikmati kepuasan sesaat. Gaswat dongs?

Nah sobat, coba aja bayangin. Gimana nggak keder ortu dengan akibat kebebasan remaja yang kebablasan seperti dipaparkan di atas. Niat ortu ngasih kebebasan biar mandiri, bisa-bisa nyasar malah anak remajanya kehilangan harga diri. Makanya kita pantas ber- husnudzan ama ortu. Kalo pengen dipercaya ortu, jalin komunikasi dan tunjukkin dong kalo kita udah dewasa dan siap belajar mandiri. Nggak perlu pake ngambek. Malu kan ama seragam SMA-nya? Hehehe

4 responses so far

Sep 27 2007

Kebebasan Yang Dipertanyakan

Published by barie under Remaja Edit This

Brak!!! Nita membanting pintu kamarnya dengan keras. Brug! Tas sekolahnya dilempar ke kasur. Pluk! Seekor cicak terjatuh saking kagetnya ngedenger pintu dibanting. Waaa!! Kalo ini Nita ngejerit karena cicak itu jatuh tepat di kakinya.

Setelah berjingkrak-jingkrak nggak karuan, badannya pun ikut ambruk menyusul tasnya. Di sudut matanya terlihat aliran bening air mata. Sedih nih yee? Yaa gitu deh!

Nita sedih bukan lantaran kejatuhan cicak. Bukan juga lantaran nggak diizinin pak RT jadi peserta lomba panjat pinang. Pelajar kelas dua SMA ini lagi ngambek ama mamanya. Soalnya mama belon ngijinin doi untuk jalan-jalan ke mal sampe sore sepulang sekolah; atau minta jatah uang sakunya dijadiin bulanan; atau ikut clubbing di malam minggu bareng temen-temennya; atau pake baju tang top ngikutin tren; atau punya temen deket cowok dan masih banyak lagi tren remaja yang pengen Nita ikutin. Padahal Nita udah udah tujuh belas tahun. Dan temen-temen sebayanya pada bisa ngikut tren. Kenapa Nita nggak boleh? Makanya dari sepulang sekolah tadi, doi mogok keluar kamar. Kecuali pas lagi laper, pengen ke toilet, pas mamanya nawarin es krim, atau pas tukang somay kesenengannya lewat. Yeee mogok kok banyak kecualinya.

Kasus model Nita di atas kayaknya sering banget deh kita denger. Bisa jadi kita juga pernah ngalamin (ehm ehm jadi malu). Di usia yang menginjak remaja, kita sering ngerasa ortu belon ngasih kita kebebasan. Ortu masih nganggap kita anak kecil. Setiap jengkal keseharian kita masih diatur ama ortu. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Sementara di luar rumah, alam kebebasan yang mulai banyak digandrungi temen-temen remaja menggoda kita untuk mencicipinya. Enak kali ya

Kenapa pengen bebas?
Memasuki umur belasan tahun, biasanya remaja mulai merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Dari mulai perubahan fisik sampe non fisik yang meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter. Tapi nggak pake perubahan identitas jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailor Moon lho. Suara yang pecah, adanya jakun pada cowok, atau mulai tumbuhnya maaf- payudara pada cewek menunjukkan adanya perubahan fisik. Tapi untuk perubahan non fisik, nggak terlalu keliatan. Kita cuma bisa nebak dari gejala yang ditunjukkan remaja dalam perilakunya. Pakar psikologi bilang, fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri yang dilalui remaja untuk mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan sekaligus mengenali dirinya lebih dekat. Catet tuh!

Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja biasanya memerlukan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, alon-alon remaja berusaha melepaskan ikatan psikis dengan orangtua. Mereka pengen dihargai sebagai orang dewasa. Pengen bisa berpikir secara merdeka; bisa mengambil keputusan sendiri; punya hak untuk menerima atau menolak masukan dari pihak lain; dan belajar bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.

Robert Havighurst menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, pertama emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orangtua. Kedua aspek ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orangtua. Ketiga, aspek intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Dan terakhir, aspek sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

Itulah sedikit tinjauan psikologis akan kebebasan yang dikehendaki remaja. Intinya sih, remaja pengen mandiri. Nggak cuma makan atau mandi sendiri, tapi juga dipercaya dalam berpikir, berbuat, dan bersikap sesuai dengan keinginannya.

3 responses so far

Advertise Here